Jl. Pintu Air, Desa Gue Gajah, Darul Imarah. Aceh Besar

Aceh Besar, Aceh

Berita

213 Santri Ruhul Islam Anak Bangsa Ikut Haflah Wada’, Berikut Rangkaian Kegiatannya!

Berita

213 Santri Ruhul Islam Anak Bangsa Ikut Haflah Wada’, Berikut Rangkaian Kegiatannya!

213 Santri Ruhul Islam Anak Bangsa Ikut Haflah Wada’, Berikut Rangkaian Kegiatannya!

ruhulislam.com/, Aceh Besar – Madrasah Aliyah Swasta Ruhul Islam Anak Bangsa menggelar acara Haflah Wada’ pada hari Jum’at (17/3/23) di halaman kampus Ruhul Islam Anak Bangsa, Desa Gue Gajah, Kecamatan Darul Imarah, Aceh Besar.

Haflah Wada’ merupakan kegiatan tahunan yang di gelar sebelum dilaksanakannya wisuda akbar atau yang di sebut dengan Haflah Takhrij. Haflah wada’ merupakan acara yang di gelar secara khusus antara seluruh dewan guru, ustadz-ustadzah pembina, serta sivitas akademika Ruhul Islam Anak Bangsa dengan para santri.

Sebanyak 213 santriwan dan santriwati kelas XII ikut dalam acara perpisahan antara guru dan murid tersebut, acara berjalan dengan lancar dan dibanjiri dengan isak serta tangis air mata dari keduanya. Matahari bersinar terang dan bersahabat hingga acara selesai, Seakan Tuhan sang pencipta memberikan tanda atas ridhanya terhadap acara tersebut.

Rangkaian kegiatan Haflah Wada’

Acara diawali dengan penampilan rapai geleng dari kelas XII yang memukau para hadirin dan dilanjutkan dengan pembacaan ayat suci Al-Qur’an oleh santri Ruhul Islam Anak Bangsa, Zalfa Wiqayatul Hasanah. Serta dilanjutkan dengan kata-kata sambutan mewakilan seluruh santri Ruhul Islam Anak Bangsa oleh M. Bima Guevara, ia menyampaikan kesan dan pesan kepada abang serta kakak kelanya selama lebih kurang tiga tahun bersama di RIAB. Tentu banyak suka dan dukanya, yang pasti banyak ilmu yang di dapat selama bekerjasama dalam menyukseskan suatu kegiatan.

Dayan Rahmat Meutuah mewakil angkatan 24 dalam sambutannya mengucapkan ribuan terimakasih kepada ustadz, ustadzah, dewan guru atas waktu dan ilmu yang diberikan selama mereka di Ruhul Islam Anak Bangsa, semoga bermanfaat di masa yang akan datang bagi mereka. Ia juga berpesan kepada teman seangkatan, agar meninggalkan pesan dan kesan yang baik sebelum keluar menjadi alumni dan ia juga menegaskan bahwa perpisahan bukan suatu penghalang untuk tidak bertemu kembali.

Mewakili dewan guru Ruhul Islam Anak Bangsa ibu Nurmasyithah, M.Si menyampaikan pesan manis kepada seluruh santri kelas XII, semoga kenangan manis selama tiga tahun di RIAB  akan mendewasakan dan menjadi bekal bagi santriwan-santriwati dalam menjalani kehidupan selanjutnya. Belajar dari filosofi emas dan besi, Keduanya sama-sama logam tapi saat ditempa oleh panas/api akan menghasilkan produk yang kualitas dan nilainya yang berbeda. Harapan semua civitas akademika semoga para wisudawan semua menjadi perhiasan emas yang indah dan kokoh serta bermanfaat untukk ummat, jangan jadi seperti besi hanya dengan karat/korosi akan menghancurkan besi itu sendiri. Ia juga menutup kata dengan beberapa pantun.

“Anak melayu mengail ikan, perahu berlabuh di tengah lautan, Tiga tahun sudah berlalu penuh perjuangan, Suka dan duka bukan jadi penghalang”.

“Kembang mawar sungguhlah indah di tengah taman jadi hiasan, Jangan menyerah dan jangan gundah. Terus berjuang meraih asa dan impian. Pergi ke keutapang memakai gari, Jatuh ke parit amatlah rugi. Selalu jaga budi pekerti, Agar bahagia semantiasa menemani”. Tutup Nurmasyithah

Sedangkan ustadzah Sabariah, S.Pd.I., M.Pd. dalam pesannya kepada seluruh santri secara umum dan khusus kepada santriwan dan santriwati yang hendak meninggalkan Ruhul Islam Anak Bangsa agar selalu dapat menjaga diri dimanapun berada. Ada empat hal yang menjadi pesan singkatnya;

“pertama, menghargai wanita; Islam dan Rasulullah sangat menghargai perempuan, hadirnya rasulullah mengangkat derajat para wanita, oleh karenanya jangan pernah merendahkan diri kita sendiri. Salah satunya dengan tidak menutup aurat atau berboncengan di atas kereta dengan yang bukan mahramnya. Kedua, Istiqomah; banyak hal-hal positif yang di dapatkan di RIAB, maka terus istiqomah terhadap hal-hal yang baik tersebut dan terus belajar serta berada di lingkungan yang benar lagi mendukung keistiqomahan tersebut. Ketiga, terbarlah manfaat; ilmu yang di dapatkan di RIAB dapat di manfaatkan di disebarkan kepada yang lain. Dan yang keempat, jangan lupa ridha orang tua dan guru; jika tidak bisa membahagiakan kedua orang tua dan guru, maka jangan pernah melukai hati mereka”. Tegas Ustadzah Sabariah

Dilanjutkan dengan pesan dari koordinator asrama putra, Ust. Muzirwan, Lc., M.E., kepada seluruh santri yang hendak meninggalkan kampus Ruhul Islam Anak Bangsa, ia menguraikan sebuah hadis yang intinya, Banyak sekali orang tua itu mulia karena anak yang memuliakan orang tuanya. Sebagaimana Rasulullah telah memuliakan orang tuanya.

“Mengangkat derajat orang tua melalui prestasi, perlu kita ingat bahwa RIAB bisa kalian angkat derajatnya dan bisa menjatuhkan derajatnya dalam satu detik. Oleh karenanya setelah kalian keluar dari Ruhul Islam Anak Bangsa, maka akan membawa Lebel RIAB di dada kalian. Maka jagalah lebel itu agar tetap menjadi derajat yang tinggi di mata orang-orang. Salah satu caranya adalah dengan tidak ada yang memakai celana pendek, berpacaran dan berboncengan dengan yang bukan haknya”. Jelas Muzirwan

“Dimanapun kita berada, apa kita sembunyi di hadapan manusia. Akan tetapi CCTV Allah lebih hebat dari CCTV manusia. Oleh karena itu jangan pernah Dhalim kepada diri sendiri, sehingga merusak nama orang baik orang tua dan keluarga besar kalian, serta nama baik sekolah kalian. Ingat pesan ini, muliakanlah orang tua kalian, angkat derajat orang tua kalian dengan prestasi yang membanggakan”. Tutup Muzirwan

Plt. Kepala Madrasah Aliyah Swasta Ruhul Islam Anak Bangsa Zaqwanur, S.Pd.I., dalam sambutanya memberikan tiga pesan yang menarik dan menyentuh, pertama, sebuah analogi seseorang memperoleh rezeki, seperti ayam; ada seekor ayam ketika datang juragannya memberikan makan, jika ayam tersebut tidak jinak, maka ia akan mendapatkan rezeki secara sedikit-sedikit dan sebaliknya, jika seseokor ayam tersebut jika dan dekat dengan jurangannya ketika di panggil langsung datang mendekati juragannya, maka ia akan memperoleh dan dapat makan dengan tenang hingga kenyang. Ini ibaratnya seseorang yang dekat dengan Allah ia akan memperoleh rezeki yang banyak dan sebaliknya jika ia jauh dari Allah ia juga mendapatkan rezekinya namun ada perbedaan diantara keduanya.

Yang kedua, seekor gajah ketika melihat seekor singa ia berpikir bagaimana caranya berlari jauh darinya dan ketika seekor singa melihat seekor gajah yang besar ia berpikir bagaimana caranya dia makan dan mengejarnya. Ini menunjukkan seseorang harus bermental yang kuat sehingga minsite kita selalu positif dengan jiwa yang gagah berani. Dan yang ketiga, Zaqwan mengutip bacaan di sebuah buku, yang mana buku tersebut menulis jalan perjalanan dan hal-hal kecil yang menjadi besar jika dilakukan secara tekun.

“hal itu di lakukan oleh pendiri Dayah Ruhul Islam Anak Bangsa, Prof. Syamsuddin Mahmud, MBA. ia bercita-cita menjadi orang baik, berteman dengan orang baik, dan melakukan hal-hal baik secara kontinyu. Tiga hal ini yang dilakukan oleh Prof. Syamsuddin Mahmud sehingga bisa mengantarkan beliau menjadi orang nomor satu di Aceh”. Jelas Zaqwan secara menyeluruh

Sedangkan Bunda Hj. Khairiah Elidar S, selaku ketua pengurus harian yayasan Ruhul Islam Anak Bangsa menjelakan jika hari ini merupakan hari duka baginya, karena hari ini merupakan hari perpisahan dengan para santri tercinta, namun ini menjadi awal bagi perjalanan para santri agar terus menggapai cita-citanya. Ia juga berpesan agar terus mengingat para gurunya dimanapun berada, karena jika bukan karena guru, ustadz, ustadzah kalian tidak bisa seperti sekarang ini. Semoga kalian sukses selalu di manapun berada. Jelas bunda Khairiah.

Acara dilanjutkan dengan serah terima jabatan antara kepala madrasah sebelumnya Pak Kusnadi, MA kepada Plt. Kepala Madrasa Ruhul Islam Anak Bangsa pak Zaqwanur, S.Pd.I., secara seremonial dan dilanjutkan dengan sambutan perpisahan oleh pak Kusnadi, MA. Ia mengilas balik perjalanannya di Dayah Ruhul Islam Anak Bangsa yang sudah lima belas tahun berada dan membesarkan anak-anaknya di lingkungan dayah.

“lima belas tahun saya berada di dayah ini, tentu secara rasa emosional sudah tidak dapat diragukan lagi bagaimana kecintaan bapak kepada Dayah Ruhul Islam Anak Bangsa ini”. Tegas Kusnadi yang sekarang bertugas di Kantor Kementerian Agama Kota Banda Aceh sebagai Kasi Penmad.

Kegiatan tersebut juga di warnai dengan pengumuman santri teristimewa, ini dilihat bukan karena kepintarannya, melainkan bagaimana proses dia selama berada di Ruhul Islam Anak Bangsa dan usaha keras yang mereka lakukan dan mampu menyelesaikan hafalan Al-Qur’an 30 juz. Wakil Direktur Bidang Kesantrian Ruhul Islam Anak Bangsa ust. Rachmad Munazir, Lc., MA., berpesan jika Semua kebaikan yang kita lakukan di dunia ini akan membawa kesuksesan ke dunia ini, kita tidak tau yang mana itu. maka lakukanlah dengan sepenuh hati. Adapun santri teristimewa tersebut jatuh kepada; Imam As-shidqi dan Bahira Rajan.

Kemudian dilanjutkan dengan Pemotongan nasi tumpeng dan penyerahan wakaf dari santri kelas XII kepada Madrasah Aliyah Swasta Ruhul Islam Anak Bangsa, musikalisasi puisi para santriwan dan santriwati angkatan XXIV dan dilanjutkan dengan Halal Bi Halal bersama Civitas Akademika Ruhul Islam Anak Bangsa.**mra**

Share with