Jl. Pintu Air, Desa Gue Gajah, Darul Imarah. Aceh Besar

Aceh Besar, Aceh

Berita

Laksanakan Tarhib Ramadhan 1445 H, Tgk. Aulia Fajri; Menjaga Iman Demi Keselamatan Ramadhan

Berita

Laksanakan Tarhib Ramadhan 1445 H, Tgk. Aulia Fajri; Menjaga Iman Demi Keselamatan Ramadhan

Laksanakan Tarhib Ramadhan 1445 H, Tgk. Aulia Fajri; Menjaga Iman Demi Keselamatan Ramadhan

ruhulislam.com/ – Aceh Besar, Madrasah Aliyah Dayah Ruhul Islam Anak Bangsa melaksanakan kajian sebelum para santri pulang ke kampung halaman masing-masing. Kegiatan yang disebut dengan Tarhib Ramadhan tersebut dilaksanakan di Masjid Babul Mutha’alimin komplek Ruhul Islam Anak Bangsa pada Jum’at (8/3/24).

Direktur Madrasah Aliyah Dayah Ruhul Islam Anak Bangsa dalam sambutannya menyampaikan bahwa kegiatan ini perlu kita laksanakan agar memberikan edukasi kepada para santri sebelum melaksanakan ibadah berpuasa ramadhan.

“kami rasa kegiatan ini penting agar anak-anak kami tercerahkan dalam menghadapi bulan Ramadhan,” jelasnya

Sedangkan Tgk. Aulia Fajri dalam kajiannya menyampaikan bahwa menjaga iman demi keselamatan bulan ramadhan itu sangat penting, terkadang manusia sering mengabaikan perihal yang dianggap kecil namun dengan kebiasaan tersebut dapat mengikis keimanan seseorang.

“perlu kita menjaga iman demi keselamatan bulan ramadhan ini,”

Selain itu agar iman terus meningkat minimal perlu melakukan beberapa poin seperti;

Pertama, mengenal lebih dekat Rabb yang kita sembah.

Hal ini harus kita dahulukan dari yang lain, dan tentunya harus kita lakukan dengan cara yang benar dan sesuai syariat. Oleh karenanya, proses mengenal Allah serta takut kepada-Nya hanya bisa dicapai dengan belajar dan menuntut ilmu. Karena berilmu merupakan kunci dari munculnya rasa takut kepada Allah Ta’ala. Allah Ta’ala berfirman,

إِنَّمَا يَخْشَى اللَّهَ مِنْ عِبَادِهِ الْعُلَمَاءُ

“Di antara hamba-hamba Allah yang takut kepada-Nya, hanyalah para ulama.” (QS. Fatir: 28)

Kedua, hidup bersama Al-Qur’an.

Tidak hanya sekedar membaca saja, cobalah sembari menadaburinya dan menghayati maknanya. Karena hal ini merupakan salah satu sifat orang mukmin yang diterangkan oleh Allah Ta’ala,

وَإِذَا تُلِيَتْ عَلَيْهِمْ آيَاتُهُ زَادَتْهُمْ إِيمَانًا

“Dan apabila dibacakan ayat-ayat-Nya kepada mereka, bertambah (kuat) imannya.” (QS. Al-Anfal:3)

Ibnul Qayyim rahimahullah mengatakan, “Membaca suatu ayat dengan disertai penghayatan dan pemahaman itu jauh lebih baik dari sekedar mengkhatamkan tanpa disertai penghayatan dan pemahaman, serta lebih bermanfaat untuk hati dan lebih ampuh di dalam menambah keimanan dan merasakan lezatnya Al-Qur’an.”

Ketiga, selalu mengingat Allah di setiap keadaan.

Senantiasa menjadikan lisan kita berzikir kepada Allah Ta’ala, meminta ampun kepada-Nya, bertasbih kepada-Nya di setiap keadaan. Karena Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

مثل الذي يذكر ربه والذي لا يذكر ربه مثل الحي والميت

“Perumpamaan orang yang mengingat Tuhannya (berzikir) dengan orang yang tidak mengingat Tuhannya seperti orang yang hidup dengan yang mati.” (HR. Bukhari no. 6407 dan Muslim no. 779)

Keempat, menyelesihi hawa nafsu dengan cara mendahulukan apa-apa yang dicintai Allah dan Rasul-Nya.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

ثلاث من كنَّ فيه وجد حلاوة الإيمان: أن يكون الله ورسوله أحب إليه مما سواهما، وأن يحب المرء لا يحبه إلا لله، وأن يكره أن يعود في الكفر كما يكره أن يقذف في النار

“Tiga hal, barangsiapa memilikinya maka ia akan merasakan manisnya iman. (Yaitu) menjadikan Allah dan Rasul-Nya lebih dicintai dari selainnya, mencintai seseorang semata-mata karena Allah, dan benci kembali kepada kekufuran sebagaimana ia benci jika dilempar ke dalam api neraka.” (HR. Bukhari no. 16, Muslim no. 43 dan Tirmidzi no. 2624)

Kelima, bersemangat di dalam menghadiri majelis ilmu di mana di dalamnya digunakan untuk mengingat Allah Ta’ala.

Bila belum mampu, maka selektiflah di dalam berteman, pilihlah teman-teman yang saleh, teman yang senantiasa mengingatkanmu akan Allah Ta’ala karena ini merupakan kebiasaan para sahabat. Contoh saja Mu’adz bin Jabal radhiyallahu ‘anhu ketika beliau duduk-duduk dengan salah satu sahabatnya, ia akan berkata, “Duduklah bersama kami untuk (memperbarui) iman walau hanya sebentar.” Sesungguhnya teman itu sebagaimana yang sering dikatakan adalah “penarik”.

Seorang penyair juga pernah berkata,

عن المرء لا تسأل وسل عن قرينه.. فكل قرين بالمقارن يقتدي

“Tentang seseorang jangan tanya (siapa dia), tetapi tanyalah siapa temannya. Maka setiap teman akan mengikuti orang yang dia temani.”

Keenam, dan yang terakhir, bersemangatlah di dalam melakukan ketaatan serta menjauhkan diri dari kemaksiatan serta tidak lupa terus-menerus berdoa dan bergantung kepada Allah Ta’ala.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam pernah bersabda yang artinya, “Fitnah akan dihamparkan ke hati seperti tikar dihamparkan sehelai demi sehelai. Hati mana saja yang menyelaminya, maka akan berbekas titik hitam padanya. Dan hati mana saja yang mengingkarinya, maka akan berbekas titik putih. Sehingga keadaan hati menjadi dua bagian. Putih seperti batu yang licin yang tidak terpengaruh oleh fitnah selama ada langit dan bumi, sedangkan hati yang satu lagi hitam berdebu seperti cangkir yang terbalik. (Akibatnya ia) tidak mengenal yang makruf dan tidak mengingkari yang mungkar, selain yang diserap hawa nafsunya.” (HR. Muslim no. 144). (*MR)

Tinggalkan komentar

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Share with