ruhulislam.com/, Aceh Besar – Madrasah Aliyah Dayah Ruhul Islam Anak Bangsa menggelar upacara Hari Pendidikan Nasional (Hardiknas) tahun 2023 dan dilanjutkan dengan Halal Bihalal bersama sivitas akademika RIAB. Dalam kegiatan itu, Pengawas Yayasan Ruhul Islam Anak Bangsa, Dr. Hasan Yakob, MM menjadi inspektur upacara.

Turut hadir dalam kegiatan Hardiknas dan halal bi halal tersebut, Ketua Yayasan Ruhul Islam Anak Bangsa Bunda Hj. Khairiah Elida, Pengawas Yayasan RIAB Dr. Hasan Yakop, MM., Plt. Kepala Madrasah Zaqwanur, S.Pd.I., Wakabid. Kesantrian RIAB Rachmad Munazir, Lc., MA., Wakabid. Humas RIAB, Muhammad Fadhillah, Lc., M.Us., Wakabid Sarana dan Prasarana RIAB Natuah, Lc., M.Pd., Koordinator Tahfidz dan Kedayahan Fazluridha, Lc., Wakabid Kurikulum, Nofianty, Sp., dan seluruh ustadz/ustadzah dan para dewan guru Ruhul Islam Anak Bangsa.


Dalam momen tersebut Hasan Yakob menyampaikan pesan betapa pentingnya mengenal tokoh pendidikan. Baik tokoh daerah maupun tokoh-tokoh nasional dalam merintis serta memajukan pendidikan di nusantara, seperti pondok pesantren atau di Aceh lebih dikenal dengan sebutan Dayah. Bagi kita salah satu tokoh tersebut adalah pendiri Yayasan Ruhul Islam Anak Banga, Prof. Dr. Syamsuddin Mahmud, MBA dan secara nasional seperti Ki Hadjar Dewantara.


Mengenal Ki Hadjar Dewantara
Sosok Ki Hadjar Dewantara dinilai berkontribusi penting bagi pendidikan Indonesia karena perjuangannya sebagai perintis pendidikan bagi kaum pribumi di era penjajahan Belanda. Untuk itu, sejarah Hari Pendidikan Nasional juga menjadi sejarah Ki Hadjar Dewantara dalam memperjuangkan pendidikan rakyat Indonesia.
Ki Hadjar Dewantara, bernama asli Raden Mas Soewardi Soerjaningrat, lahir di Pakualaman, Yogyakarta, pada 2 Mei 1889. Dikutip dari Kompas.com (3/5/2023), Ki Hadjar Dewantara tumbuh di keluarga kaya dan berkesempatan mengenyam bangku pendidikan pada masa Hindia Belanda.

Kala itu, kebijakan Hindia Belanda hanya memperbolehkan anak-anak Belanda dan kaum priayi yang bisa menempuh pendidikan. Sementara itu, kaum pribumi lain tidak bisa menikmati pendidikan barang secuil pun. Kebijakan ini yang kemudian ditentang oleh Ki Hadjar Dewantara. Kritik terhadap kebijakan pemerintah kolonial menyebabkan ia diasingkan ke Belanda bersama dua rekannya, Ernest Douwes Dekker dan Tjipto Mangoenkusumo. Ketiganya kemudian dikenal sebagai “Tiga Serangkai”.
Kembali dari pengasingan, Ki Hadjar Dewantara mendirikan lembaga pendidikan National Onderwijs Institut Tamansiswa atau Perguruan Nasional Taman Siswa pada 3 Juli 1922 di Yogyakarta. Lembaga ini bertujuan memberikan hak pendidikan yang sama bagi pribumi jelata Indonesia, sama halnya dengan hak kaum priayi dan orang-orang Belanda.
Selain mendirikan lembaga pendidikan, ia juga aktif menulis dengan tema pendidikan dan kebudayaan berwawasan kebangsaan. Melalui tulisan-tulisan inilah, Ki Hadjar Dewantara berhasil meletakkan dasar-dasar pendidikan nasional bagi bangsa Indonesia.
Semboyan Ki Hadjar Dewantara
Sosok Ki Hadjar Dewantara terkenal akan kutipan yang menjadi semboyan pendidikan Indonesia, yakni “Tut Wuri Handayani”. Secara lengkap, semboyan dalam bahasa Jawa tersebut adalah “Ing ngarso sung tulodo, ing madyo mangun karso, tut wuri handayani”. Ing ngarsa sung tulodo, artinya “di depan, seorang pendidik harus memberi teladan atau contoh tindakan yang baik”. Ing madya mangun karsa, artinya “di tengah atau di antara murid, guru harus menciptakan prakarsa atau ide”. Tut wuri handayani, artinya “dari belakang seorang guru harus bisa memberikan dorongan dan arahan”.
Menteri Pendidikan pertama, Bapak Pendidikan Nasional
Dilansir dari Kompas.com (2/5/2021), Ki Hadjar Dewantara merupakan menteri pendidikan pertama di Indonesia. Sosoknya diamanati sebagai Menteri Pengajaran Indonesia pada Kabinet Presiden Soekarno. Ki Hadjar Dewantara juga merupakan pahlawan nasional kedua yang ditetapkan Presiden pada 28 November 1959. Penetapan tersebut berdasarkan Surat Keputusan Presiden RI Nomor 305 Tahun 1959 tertanggal 28 November 1959.
Melalui surat keputusan yang sama, dirinya turut ditetapkan sebagai Bapak Pendidikan Nasional. Bahkan, harian Kompas pada 2 Mei 1968 melaporkan, Ki Hadjar Dewantara mendapatkan penghargaan dari pemerintah atas jasa-jasanya. Sebab, sosoknya dianggap telah memelopori sistem pendidikan nasional berbasis kepribadian dan kebudayaan nasional. Baca juga: Hari Ini dalam Sejarah: Lahirnya Pak Kasur, Tokoh Pendidikan Indonesia
Turut galakkan perjuangan di luar pendidikan Bukan hanya di dunia pendidikan, Bapak Pendidikan Nasional juga tercatat pernah berkiprah sebagai wartawan. Dia pernah bekerja untuk beberapa surat kabar seperti Sedyotomo, Midden Java, De Express, Oetoesan Hindia, Kaoem Moeda, Tjahaja Timoer, dan Poesara. Ia juga aktif dalam organisasi sosial dan politik, salah satunya organisasi Budi Utomo. Pada 25 Desember 1912, Ki Hadjar Dewantara bersama rekan tiga serangkai mendirikan Indische Partij.
Namun, organisasi tersebut ditolak oleh Belanda dan diganti dengan membentuk Komite Bumiputera pada 1913. Komite tersebut bertujuan untuk melancarkan kritik terhadap Pemerintah Belanda yang bermaksud merayakan 100 tahun kebebasan negeri Belanda dari penjajahan Perancis dengan menarik pajak dari rakyat kecil. Ki Hadjar Dewantara pun mengkritik perayaan tersebut melalui tulisan yang berjudul “Als Ik Eens Nederlander Was” (Seandainya Aku Seorang Belanda) dan “Een voor Allen maar Ook Allen voor Een” (Satu untuk Semua, tetapi Semua untuk Satu Juga). Karena tulisan tersebut, Ki Hadjar Dewantara ditangkap dan dibuang ke Pulau Bangka. Namun, ia bernegosiasi untuk dibuang ke Belanda dan diizinkan oleh Belanda. ***






