ruhulislam.com/ – Aceh Besar, Madrasah Aliyah Dayah Ruhul Islam Anak Bangsa memperingati Isra Mi’raj Nabi Muhammad saw 1445 Hijriah, yang diselenggarakan di halaman panggung utama komplek RIAB, desa Gue Gajah, Kecamataman Darul Imarah, Aceh Besar pada Kamis malam (08/02/24).

Kepala Madrasah Aliyah Dayah Ruhul Islam Anak Bangsa, Riadhi, S.Pd. dalam sambutannya menyampaikan kepada seluruh santriwan-santriwati RIAB agar mendengar dengan seksama sehingga momenteum hasil dari peringatan Isra Mi’raj dapat diambil ibrahnya dan dapat diaplikasikan dalam kehidupan sehari-hari.
Adapun penceramah Isra Mi’raj Tgk. Muharrir Ashariy, Lc., M.A menyampaikan rangkaian perjalanan Isra dan Mi’raj Nabi Muhammad saw yang sebagian besar orang menganggap peristiwa tersebut tidak mudah dipikirkan oleh akal manusia, Allah SWT memberikan perintah kepada umat Islam melalui Nabi terakhir untuk menunaikan ibadah shalat.

lebih lanjut alumni RIAB angkatan 12 dan lulusan S2 Universitas Al-Qadhi Iyadh Maroko tersebut menjelaskan pentingnya mempelajari sejarah, meneladani perilaku Rasulullah dalam setiap langkah kehidupan. Sehingga Ibrah dari perjalanan Isra dan Mi’raj tersebut bisa kita maknai dengan segenap jiwa, dan kondisi tersebut ada pada orang-orang yang beriman kepada Allah SWT.
“perintah shalat hadir dalam peristiwa Isra’ Mi’raj dan peristiwa tersebut merupakan suatu hal yang istimewa bagi umat Islam,” jelasnya.
Peristiwa Isra’ Mi’raj merupakan hal yang sangat fenomenal dalam sejarah peradaban umat manusia. Selain disebutkan secara langsung dalam Al-Qur’an, peristiwa penting dalam Sejarah Islam tersebut sulit dijangkau nalar rasional manusia.

Perjalanan Nabi Muhammad SAW dalam peristiwa Isra’ Mi’raj itu ditempuh hanya dalam waktu tak lebih dari semalam. Yakni, dari Makkah (Masjidil Haram) menuju Palestina (Masjidil Aqsha), kemudian mengarungi alam semesta raya hingga ke sidratul muntaha. Padahal, di masa itu, perjalanan dari Makkah ke Masjidil Aqsa butuh waktu kurang lebih satu bulan.
Pengalaman Nabi Muhammad berupa Isra Mi’raj sebagai bagian dari keimanan karena dalam keberlangsungannya tidak ada satu pun manusia yang melihat Nabi melesat secepat kilat dari Masjidil Haram menuju Masjidil Aqsha, pun tidak ada manusia yang melihat Nabi terbang tinggi menembus awan hingga langit ketujuh. Hal ini sama halnya tidak ada manusia yang melihat Nabi menerima wahyu Al-Quran dari Allah melalui perantara malaikat Jibril.

Di titik inilah, ada persamaan antara Isra Mi’raj dan Al-Qur’an dalam hal mekanismenya. Dari perspektif lain juga terlihat kesamaannya, yaitu kebenaran turunnya al-Quran sebagai wahyu kepada Nabi dapat dibuktikan dengan nalar yang jernih dan akal sehat dengan cara menganalisa dan menghayati kandungannya, bukan melalui pancaindra.

Hal yang sama juga terdapat dalam peristiwa Isra’ Mi’raj. Kebenarannya dapat dijangkau dan dibuktikan dengan nalar yang jernih serta akal sehat dengan cara menghayati dan menganalisis secara jernih kisah-kisah Isra Mi’raj.
Analisis secara jernih akan kebenaran Isra Mi’raj dapat kita lakukan dengan menggunakan kerangka filsafat sejarah Ibnu Khaldun yang tertuang dalam magnum opus-nya Muqaddimah Ibnu Khaldun.
Ibnu Khaldun menyatakan bahwa struktur filsafat sejarah terdiri dari pelaku sejarah, substansi sejarah, dan pembaca sejarah. Seorang pembaca sejarah harus menguasai kaidah dalam periwayatan sejarah, karakteristik pelaku sejarah, tabiat yang ada, problematika perpecahan umat dan hal-hal lainnya. (*MRA)






